Home » Berita Hukum » Kronologi Penetapan Tersangka Dua Direktur LPEI Kasus Korupsi

Kronologi Penetapan Tersangka Dua Direktur LPEI Kasus Korupsi

admin 10 Mar 2025 49

Kronologi Penetapan Tersangka Dua Direktur LPEI Kasus Korupsi mengungkap dugaan penyelewengan dana besar di Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Dua direktur LPEI kini berstatus tersangka, menimbulkan pertanyaan besar terkait pengelolaan keuangan lembaga vital bagi perekonomian nasional ini. Kasus ini mengungkap celah sistemik yang memungkinkan korupsi terjadi di BUMN, membawa dampak signifikan bagi kepercayaan publik dan membutuhkan reformasi menyeluruh.

Penyelidikan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum mengungkap detail dugaan keterlibatan kedua direktur tersebut dalam skandal korupsi yang merugikan negara. Proses penetapan tersangka diawali dari laporan awal, penyelidikan, pengumpulan bukti, hingga akhirnya penetapan status tersangka. Besarnya potensi kerugian negara dan hukuman yang mengancam kedua tersangka menjadi sorotan publik.

Latar Belakang Kasus Korupsi LPEI

Penetapan tersangka terhadap dua direktur Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atas kasus dugaan korupsi mengguncang dunia bisnis dan keuangan Indonesia. Kasus ini menyoroti pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan BUMN, khususnya lembaga yang berperan vital dalam perekonomian nasional seperti LPEI.

LPEI, sebelumnya dikenal sebagai Indonesian Eximbank, memiliki peran strategis dalam mendukung ekspor Indonesia. Lembaga ini menyediakan berbagai fasilitas pembiayaan, penjaminan, dan konsultasi untuk para eksportir Tanah Air, membantu mereka menembus pasar internasional dan meningkatkan daya saing produk Indonesia di kancah global. Berdiri sejak tahun 1977, LPEI telah mengalami berbagai perkembangan dan perluasan jangkauan layanan seiring dengan dinamika perekonomian Indonesia.

Peran dan Perkembangan LPEI

Sebagai lembaga pembiayaan ekspor, LPEI memiliki peran kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui peningkatan ekspor. LPEI memberikan dukungan finansial dan non-finansial kepada para eksportir, mulai dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) hingga perusahaan besar. Perkembangan LPEI hingga saat ini ditandai dengan peningkatan portofolio pembiayaan, perluasan jaringan kerja sama internasional, dan adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan tren global.

Namun, perkembangan pesat ini juga berpotensi menimbulkan kerentanan terhadap praktik korupsi jika tidak diimbangi dengan tata kelola yang baik dan pengawasan yang ketat.

Potensi Kerentanan Pengelolaan Keuangan LPEI

Beberapa faktor dapat meningkatkan potensi korupsi dalam pengelolaan keuangan LPEI. Salah satunya adalah kompleksitas transaksi pembiayaan ekspor yang melibatkan berbagai pihak dan negara. Proses yang rumit dan kurang transparan dapat dimanfaatkan untuk melakukan penyimpangan. Selain itu, kontrol internal yang lemah, pengawasan yang kurang efektif, dan lemahnya penegakan hukum juga dapat menjadi celah bagi terjadinya korupsi. Sistem pengadaan barang dan jasa yang tidak transparan juga berpotensi menjadi pintu masuk korupsi.

Kurangnya akuntabilitas dan transparansi dalam pengambilan keputusan juga dapat mempermudah terjadinya penyimpangan.

Perbandingan Kasus Korupsi di BUMN, Kronologi penetapan tersangka dua direktur LPEI kasus korupsi

Kasus korupsi di LPEI perlu dilihat dalam konteks kasus serupa di BUMN lainnya. Perbandingan nilai kerugian negara dan hukuman yang dijatuhkan dapat memberikan gambaran mengenai skala dan dampak kasus ini. Berikut tabel perbandingan (data bersifat ilustratif dan mungkin memerlukan verifikasi lebih lanjut):

BUMN Nilai Kerugian Negara (estimasi) Hukuman Tahun
LPEI 2023
BUMN A Rp 100 Miliar 10 tahun penjara 2022
BUMN B Rp 50 Miliar 5 tahun penjara dan denda 2021
BUMN C Rp 200 Miliar 15 tahun penjara 2020

Ilustrasi Alur Dana Proyek yang Diduga Terlibat Korupsi

Ilustrasi alur dana dalam proyek yang diduga terlibat korupsi di LPEI dapat digambarkan sebagai berikut: Misalnya, suatu proyek pembiayaan ekspor dengan nilai besar disetujui. Dana tersebut kemudian dialirkan dari LPEI kepada perusahaan eksportir. Namun, sebagian dana tersebut diduga diselewengkan melalui serangkaian transaksi fiktif yang melibatkan pihak-pihak tertentu, termasuk oknum di internal LPEI dan pihak eksternal.

Dana yang diselewengkan kemudian mengalir ke rekening pribadi atau perusahaan cangkang yang dimiliki oleh pihak-pihak yang terlibat. Skema ini melibatkan penipuan, penggelapan, dan pencucian uang.

Identifikasi Dua Direktur LPEI Tersangka

Penetapan tersangka terhadap dua direktur Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dalam kasus dugaan korupsi mengguncang dunia bisnis dan keuangan nasional. Langkah tegas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini menandai babak baru dalam pengungkapan dugaan penyimpangan yang merugikan keuangan negara. Berikut identifikasi detail kedua direktur LPEI yang telah ditetapkan sebagai tersangka.

Nama dan Posisi Direktur LPEI Tersangka

Proses penetapan tersangka ini melibatkan dua figur kunci di LPEI. Identitas lengkap dan posisi mereka dalam struktur organisasi LPEI perlu diungkap secara transparan untuk memastikan akuntabilitas dan keadilan proses hukum. Informasi mengenai jabatan dan tanggung jawab masing-masing direktur akan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai potensi dampak dari tindakan mereka terhadap operasional LPEI dan keuangan negara.

  • Nama Direktur 1: [Nama Lengkap Direktur 1]. Jabatan: [Jabatan Direktur 1] Bertanggung jawab atas [Uraian Tugas dan Tanggung Jawab Direktur 1].
  • Nama Direktur 2: [Nama Lengkap Direktur 2]. Jabatan: [Jabatan Direktur 2] Bertanggung jawab atas [Uraian Tugas dan Tanggung Jawab Direktur 2].

Dugaan Keterlibatan dalam Kasus Korupsi

KPK menduga kedua direktur tersebut terlibat dalam [Sebutkan jenis dugaan korupsi, misal: penggunaan anggaran yang tidak sesuai prosedur, penyalahgunaan wewenang, atau gratifikasi]. Dugaan keterlibatan ini memerlukan penyelidikan mendalam untuk mengungkap kronologi lengkap serta peran masing-masing direktur dalam skema dugaan korupsi tersebut. Besarnya kerugian negara yang diakibatkan oleh dugaan korupsi ini juga menjadi poin penting yang perlu diinvestigasi secara komprehensif.

Bukti Awal Penetapan Tersangka

Penetapan tersangka oleh KPK tentunya didasari oleh bukti-bukti awal yang kuat dan memenuhi syarat hukum. Bukti-bukti tersebut menjadi landasan bagi proses hukum selanjutnya dan akan diuji dalam persidangan. Berikut beberapa bukti awal yang diduga digunakan sebagai dasar penetapan tersangka:

  • Hasil pemeriksaan saksi-saksi kunci.
  • Dokumen-dokumen transaksi keuangan yang mencurigakan.
  • Hasil analisis aliran dana.
  • Pengakuan dari pihak-pihak terkait.

Pernyataan Resmi Pihak Berwenang

Pernyataan resmi dari pihak berwenang, khususnya KPK, sangat penting untuk memberikan informasi yang akurat dan terpercaya kepada publik. Pernyataan ini akan menjelaskan secara detail alasan di balik penetapan tersangka dan langkah-langkah selanjutnya yang akan diambil dalam proses hukum.

“ [Sebutkan kutipan pernyataan resmi dari KPK atau pihak berwenang terkait penetapan tersangka, misalnya: “Setelah melakukan serangkaian penyelidikan dan pengumpulan bukti, KPK telah menetapkan dua direktur LPEI sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi. Proses hukum akan terus berjalan dan KPK berkomitmen untuk mengungkap seluruh fakta dan menjerat para pihak yang terlibat.”] ”

Proses Penetapan Tersangka Dua Direktur LPEI

Penetapan tersangka terhadap dua direktur Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dalam kasus dugaan korupsi menjadi sorotan publik. Proses hukum yang panjang dan kompleks ini melibatkan sejumlah tahapan penting, mulai dari laporan awal hingga akhirnya penetapan status tersangka oleh lembaga penegak hukum. Berikut kronologi detailnya.

Tahapan Awal Penyidikan

Proses penetapan tersangka diawali dengan adanya laporan dugaan korupsi yang masuk ke lembaga penegak hukum yang berwenang, misalnya KPK atau Kejaksaan. Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan penyelidikan awal untuk mengumpulkan informasi dan bukti awal terkait dugaan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh kedua direktur LPEI tersebut. Tahap ini melibatkan berbagai metode pengumpulan informasi, termasuk wawancara saksi, pengumpulan dokumen, dan analisis data keuangan.

Tim penyidik akan melakukan verifikasi dan validasi terhadap informasi yang telah dikumpulkan untuk memastikan kebenaran dan kredibilitasnya sebelum masuk ke tahap selanjutnya.

Peran Lembaga Penegak Hukum

Baik KPK maupun Kejaksaan Agung memiliki peran penting dalam proses penetapan tersangka. Jika laporan masuk ke KPK, maka KPK yang akan memimpin proses penyidikan. Sebaliknya, jika laporan masuk ke Kejaksaan, maka Kejaksaan yang akan bertanggung jawab. Lembaga penegak hukum tersebut akan membentuk tim penyidik yang terdiri dari para ahli di bidang hukum dan keuangan untuk melakukan investigasi mendalam.

Kerja sama antar lembaga penegak hukum juga mungkin terjadi jika kasus tersebut melibatkan beberapa pihak atau memerlukan keahlian khusus.

Timeline Penetapan Tersangka

Berikut gambaran kronologi penetapan tersangka, yang disederhanakan dalam bentuk deskripsi timeline:

  1. [Tanggal]: Laporan dugaan korupsi diterima oleh [Lembaga Penegak Hukum].
  2. [Tanggal]: Penyelidikan awal dimulai, termasuk pengumpulan informasi dan bukti awal.
  3. [Tanggal]: Pemeriksaan saksi-saksi kunci dilakukan.
  4. [Tanggal]: Penggeledahan dan penyitaan barang bukti dilakukan di beberapa lokasi terkait.
  5. [Tanggal]: Hasil penyelidikan dinyatakan cukup untuk meningkatkan status kasus ke tahap penyidikan.
  6. [Tanggal]: Tersangka diperiksa intensif.
  7. [Tanggal]: Penetapan tersangka terhadap dua direktur LPEI diumumkan secara resmi.

Peran Saksi dan Barang Bukti

Peran saksi dan barang bukti sangat krusial dalam proses penetapan tersangka. Kesaksian dari para saksi yang memiliki pengetahuan langsung tentang dugaan tindak pidana korupsi akan divalidasi dan dikonfirmasi dengan bukti-bukti lain. Barang bukti yang ditemukan, seperti dokumen keuangan, bukti transfer dana, dan alat komunikasi, akan dianalisis secara forensik untuk memperkuat dakwaan. Keberadaan bukti yang kuat dan kredibel akan mempermudah proses penetapan tersangka dan selanjutnya proses persidangan.

Dugaan Kerugian Negara: Kronologi Penetapan Tersangka Dua Direktur LPEI Kasus Korupsi

Penetapan tersangka dua direktur Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atas dugaan korupsi menimbulkan pertanyaan besar terkait besaran kerugian negara yang ditimbulkan. Perhitungan kerugian negara dalam kasus ini menjadi krusial, mengingat dampaknya terhadap kepercayaan publik dan kinerja LPEI ke depannya. Proses audit dan investigasi yang menyeluruh diperlukan untuk memastikan keakuratan angka kerugian negara yang sebenarnya.

Penyelidikan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum akan mengungkap metode perhitungan kerugian negara, meliputi analisis atas transaksi yang diduga merugikan keuangan negara, penggunaan dana yang tidak sesuai prosedur, dan potensi kerugian ekonomi lainnya. Besarnya kerugian negara akan berdampak pada proses hukum yang dijalankan dan sanksi yang dijatuhkan kepada para tersangka.

Perkiraan Kerugian Negara

Besaran kerugian negara dalam kasus dugaan korupsi di LPEI ini masih dalam tahap penyelidikan. Namun, berdasarkan kasus-kasus korupsi serupa di BUMN lain, perkiraan kerugian bisa mencapai puluhan hingga ratusan miliar rupiah. Angka ini akan bervariasi tergantung pada temuan investigasi selanjutnya, termasuk jumlah dana yang diselewengkan dan dampaknya terhadap program dan kegiatan LPEI.

Metode Perhitungan Kerugian Negara

Metode perhitungan kerugian negara biasanya melibatkan audit investigatif yang dilakukan oleh auditor independen dan aparat penegak hukum. Metode ini meliputi penelusuran alur dana, pengkajian dokumen pendukung, dan wawancara dengan saksi-saksi. Hasil audit akan menjadi dasar perhitungan kerugian keuangan negara, termasuk potensi kerugian ekonomi akibat terhambatnya program dan kegiatan LPEI.

Jenis Kerugian Negara

Dugaan korupsi di LPEI berpotensi menimbulkan kerugian keuangan negara berupa penyelewengan dana, penggunaan anggaran yang tidak tepat sasaran, dan potensi kerugian lainnya. Selain itu, kasus ini juga berpotensi menimbulkan kerugian perekonomian negara karena dapat mengganggu kinerja LPEI dalam mendukung ekspor Indonesia. Kerugian ini dapat berupa hilangnya peluang investasi, penurunan daya saing produk ekspor, dan dampak negatif terhadap perekonomian nasional secara keseluruhan.

Dampak Dugaan Korupsi terhadap Program dan Kegiatan LPEI

Dugaan korupsi ini berpotensi mengganggu program dan kegiatan LPEI, khususnya yang berkaitan dengan pembiayaan ekspor. Program-program yang terdampak dapat mengalami keterlambatan, bahkan terhenti. Hal ini berdampak pada para eksportir yang bergantung pada pembiayaan LPEI, serta berpotensi mengurangi daya saing produk ekspor Indonesia di pasar internasional. Kepercayaan investor terhadap LPEI juga bisa menurun, sehingga berdampak pada akses pembiayaan di masa mendatang.

Perbandingan Kerugian Negara dengan Kasus Korupsi Serupa

Untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif, dibutuhkan perbandingan kerugian negara dalam kasus ini dengan kasus korupsi serupa di lembaga lain. Perbandingan ini akan memberikan perspektif yang lebih luas mengenai dampak korupsi terhadap keuangan dan perekonomian negara.

Lembaga Tahun Nilai Kerugian (Perkiraan) Jenis Kerugian
LPEI 2023 Masih dalam penyelidikan Keuangan Negara dan Perekonomian Negara
(Contoh Kasus 1) (Tahun) (Nilai Kerugian) (Jenis Kerugian)
(Contoh Kasus 2) (Tahun) (Nilai Kerugian) (Jenis Kerugian)
(Contoh Kasus 3) (Tahun) (Nilai Kerugian) (Jenis Kerugian)

Langkah-langkah Selanjutnya

Penetapan tersangka terhadap dua direktur Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atas kasus dugaan korupsi merupakan babak baru dalam proses penegakan hukum. Langkah selanjutnya akan menentukan arah dan dampak dari kasus ini, baik bagi para tersangka, LPEI, maupun sistem tata kelola keuangan negara secara keseluruhan. Proses hukum yang transparan dan adil menjadi kunci untuk memastikan keadilan ditegakkan dan kepercayaan publik terhadap lembaga keuangan negara tetap terjaga.

Langkah Hukum Selanjutnya

Setelah penetapan tersangka, proses hukum akan berlanjut dengan serangkaian tahapan penyidikan yang lebih intensif. Jaksa Penuntut Umum (JPU) akan mengumpulkan bukti-bukti tambahan, memeriksa saksi-saksi, dan menganalisis dokumen-dokumen terkait. Tahapan ini bisa meliputi penggeledahan, penyitaan aset, dan pemeriksaan para tersangka secara lebih mendalam. Setelah penyidikan selesai, berkas perkara akan dilimpahkan ke pengadilan untuk diadili. Proses persidangan akan melibatkan pemeriksaan saksi, ahli, dan barang bukti, hingga akhirnya majelis hakim menjatuhkan putusan.

Potensi Hukuman

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, kedua direktur LPEI tersebut berpotensi menghadapi hukuman penjara dan denda yang cukup berat. Besaran hukuman akan bergantung pada bukti-bukti yang ditemukan dan kualifikasi tindak pidana korupsinya. Dalam beberapa kasus serupa, hukuman penjara hingga puluhan tahun dan denda miliaran rupiah pernah dijatuhkan.

Faktor-faktor seperti jumlah kerugian negara, peran tersangka dalam kasus tersebut, dan sikap kooperatif tersangka selama proses hukum juga akan menjadi pertimbangan hakim dalam menjatuhkan vonis.

Dampak terhadap Citra dan Kinerja LPEI

Penetapan tersangka terhadap dua direktur LPEI jelas berdampak negatif terhadap citra dan kinerja lembaga tersebut. Kepercayaan publik terhadap LPEI bisa menurun, berpotensi mempengaruhi akses LPEI terhadap pendanaan dan kerjasama internasional. Operasional LPEI juga mungkin terganggu, terutama jika tersangka memegang posisi kunci dalam pengambilan keputusan. Namun, tanggapan cepat dan transparan dari manajemen LPEI dalam menangani kasus ini, serta komitmen untuk memperbaiki tata kelola internal, dapat membantu meminimalisir dampak negatif jangka panjang.

Upaya Pencegahan Korupsi

Kasus ini menjadi pengingat pentingnya upaya pencegahan korupsi yang komprehensif di semua sektor, termasuk lembaga keuangan negara seperti LPEI. Penguatan sistem pengawasan internal, transparansi dalam pengambilan keputusan, dan penegakan kode etik yang tegas merupakan langkah-langkah krusial. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam hal integritas dan pemahaman hukum juga sangat penting. Selain itu, perlu adanya kerjasama yang efektif antara lembaga pemerintah, aparat penegak hukum, dan masyarakat sipil dalam upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi.

Rekomendasi Perbaikan Tata Kelola di LPEI

  • Penguatan sistem pengawasan internal yang independen dan efektif.
  • Penerapan prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam setiap proses pengambilan keputusan.
  • Peningkatan mekanisme pelaporan dan pengaduan terkait potensi pelanggaran.
  • Pengembangan kode etik yang komprehensif dan penegakannya yang tegas.
  • Pelatihan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia terkait pencegahan korupsi.
  • Pemanfaatan teknologi informasi untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi.
  • Peningkatan kerjasama dengan lembaga anti-korupsi dan auditor eksternal.

Ringkasan Akhir

Kasus korupsi di LPEI ini menjadi alarm bagi seluruh BUMN untuk meningkatkan tata kelola keuangan dan memperkuat sistem pencegahan korupsi. Penetapan tersangka terhadap dua direktur LPEI bukan hanya kasus individual, tetapi juga menunjukkan perlunya evaluasi mendalam terhadap sistem pengawasan dan akuntabilitas di dalam lembaga tersebut.

Langkah-langkah hukum selanjutnya diharapkan dapat mengungkap seluruh jaringan korupsi dan mengembalikan kerugian negara. Kepercayaan publik terhadap BUMN harus diperbaiki dengan komitmen nyata untuk memberantas korupsi.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Persepsi Media Soal Pengerahan TNI Kejati Kejari

ivan kontributor

17 May 2025

Persepsi media terhadap pengerahan TNI Kejati Kejari menjadi sorotan penting. Pengerahan ini seringkali menimbulkan beragam interpretasi, mulai dari dukungan terhadap penegakan hukum hingga kekhawatiran akan potensi pelanggaran HAM. Bagaimana media menggambarkan peristiwa ini, dan bagaimana persepsi publik terbentuk darinya, patut dikaji secara mendalam. Artikel ini akan mengupas tuntas pengerahan TNI di lingkungan Kejati dan Kejari, …

Investigasi Lebih Lanjut Kasus Penyelundupan Emas Aktor

ivan kontributor

09 Mar 2025

Investigasi lebih lanjut kasus penyelundupan emas aktor tengah menjadi sorotan. Skandal ini tak hanya mengungkap jaringan penyelundupan emas skala besar, tetapi juga melibatkan figur publik yang selama ini dikenal di masyarakat. Besarnya jumlah emas yang diselundupkan dan kompleksitas modus operandinya menjadi tantangan tersendiri bagi penegak hukum. Kasus ini bermula dari penangkapan beberapa tersangka yang terhubung …

Status hukum terbaru kasus aktor Darren Wang

heri kontributor

06 Mar 2025

Status hukum terbaru dari kasus yang melibatkan aktor Darren Wang tengah menjadi sorotan. Publik penasaran dengan perkembangan terkini setelah serangkaian proses hukum yang panjang dan berliku. Kasus ini bukan hanya menyangkut karier Darren Wang, tetapi juga mempengaruhi persepsi publik terhadap dunia hiburan dan penegakan hukum di dalamnya. Dari kronologi awal hingga putusan pengadilan (jika ada), …

Kronologi Penangkapan Kapolres Ngada Terkait Narkoba

admin

06 Mar 2025

Kronologi penangkapan Kapolres Ngada atas dugaan penyalahgunaan narkoba mengguncang institusi kepolisian. Kasus ini menjadi sorotan publik, menimbulkan pertanyaan besar tentang penegakan hukum internal dan integritas aparat. Bagaimana kronologi penangkapan tersebut? Bukti apa yang ditemukan? Dan apa dampaknya terhadap kepercayaan publik? Simak ulasan lengkapnya berikut ini. Penangkapan Kapolres Ngada menjadi perhatian utama, mengungkap sisi gelap yang …

Kronologi Penahanan Nikita Mirzani dan Pernyataan Fitri Salhuteru

ivan kontributor

05 Mar 2025

Kronologi Penahanan Nikita Mirzani dan pernyataan Fitri Salhuteru menjadi sorotan publik. Kasus ini menyita perhatian, tidak hanya karena melibatkan figur publik yang kontroversial, tetapi juga karena pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh sahabat Nikita, Fitri Salhuteru, yang turut mewarnai dinamika hukum dan opini publik. Bagaimana kronologi penahanan tersebut bergulir dan bagaimana peran pernyataan Fitri Salhuteru dalam membentuk …

Barang bukti yang ditemukan saat penggeledahan rumah Riza Chalid

admin

27 Feb 2025

Barang bukti yang ditemukan saat penggeledahan rumah Riza Chalid mengungkap detail mengejutkan terkait kasus yang tengah diselidiki. Penggeledahan yang dilakukan oleh pihak berwenang ini menimbulkan spekulasi publik dan pertanyaan seputar dugaan pelanggaran hukum yang melibatkan Riza Chalid. Berbagai item ditemukan, dan analisis terhadap barang bukti tersebut akan menjadi kunci dalam menentukan arah perkembangan kasus ini …